Film Kantata

Rabu, 17 Februari 2010



Sedikit yang bisa saya review lewat tulisan disini mengenai film Kantata . Mengingat nasib dan proses pembuatan film tersebut sudah  menyita waktu yang spektakuler “luar biasa” lamanya , 17 tahun lebih . Lamanya waktu tersebut bukan pekerjaan “day to day” yang jelas meletihkan , namun lebih banyak “nongkrong” mengendap di gudang (yang bocor pula) sehingga sebagian besar dari scene2 yang ada keburu rusak tak bisa diperbaiki , karena berkarat. Jadi “meletihkannya”nya dalam katagori letih yang “lelah” dalam penantian .



Jangan ditanya siapa yang bersalah atau siapa yang harus bertanggung-jawab , sebab semenjak dari awal dari pembuatannya sendiri memang tidak ada “komitmen” yang jelas , siapakah penanggung jawabnya . Selain hanya film tersebut akan disutradarai oleh 3 sekawan sineas Indonesia . Mereka adalah : Erros Djarot – Slamet Rahardjo dan Gotot Prakosa.
Awal konser Kantata Takwa di Stadion Utama Senayan adalah awal dari proses filmisasi tersebut dimulai . Tidak ada panduan story-board ataupun sampai dengan skenario seperti lazimnya orang-orang bila hendak membuat film. Karena itu pula tidak ada pembagian peran , seperti peran utama /pembantu dan lainnya . Semua orang (kami berlima : Setiawan Djody / Rendra /Iwan Fals / Sawung Jabo dan saya) adalah pemeran utama sekaligus pemeran pembantu dan peran-peran apapun lainnya yang nantinya dibutuhkan . Demikianlah garis besar penjelasan  yang diberikan pada saat kesepakatan untuk membuat film tersebut hendak dimulai.

Maka yang terjadi kemudian adalah , proses shoting yang dilakukan ketika Kantata mengadakan konser-konser diberbagai daerah / kota . Yang antara lain di Jakarta – Surabaya – Solo -  dan sebagainya . Sepanjang perjalanan menuju kota-kota tersebutlah kegiatan film tersebut berlanjut , dimana kami memanfaatkan kota-kota seperti Demak / Jepara / Parangtritis-Jogyakarta / Tawangmangu-Solo .Umumnya tempat dimana situs-situs sejarah bisa dijumpai .

Bertahun-tahun kemudian , kita memang sering bertanya-tanya antar satu sama lainnya ..:”gimana tuh nasib filmnya…dsb.” . Ya bagaimana…? wong dia kehujanan di gudang gue… bukan lagi basah…tapi udah kerendem air ; demikian Erros Djarot berkata untuk menjawab pertanyaan yang ada. Lalu ..yah…seperti biasa kan.. sebagai orang Indonesia pada umumnya…”ya sudahlah..ikhlaskan saja..” Dan kita semua akhirnya memang “Ikhlas..las..las”..hehehe.. (udah nggak ada bayaran…rusak pula…) . Pernah saya berkata sama Erros : “yah..udah capek-capek (kagak ada honornya) hilang pula…!” , lalu dijawab juga : “elu pikir cuman elu doang yang capek…, semua crew juga capek…alias gratisan semua” hahahaha..!

Namun akhirnya , melalui proses tehnology digital yang berkembang sampai dengan saat ini , ada beberapa scene yang ternyata masih bisa ditolong untuk diselamatkan . Kerja rendering tersebut konon dilakukan di Sydney Australia oleh Gotot Prakosa dan kawan-kawan dari TIM. Sayang sekali setelah kami menyaksikan apa yang bisa di-edit dan ditata kembali ( dari scene-scene yang bisa terselamatkan )… begitu banyak adegan dan kisah-kisah dalam shoting kala itu yang menempel dalam benak saya , kini sudah tak bisa saya lihat lagi . Ya..mereka , scene-scene tersebut sudah rapuh berkarat dan rusak hingga tak bisa ditolong lagi . Gallery Picture diatas adalah bagian-bagian dari film yang saya “capture” dari DVD.

Namun betapapun berbagai kekurangan serta keterbatasan yang bisa dilakukan untuk merangkai kembali gambar-gambar film tersebut , ada satu hal yang sungguh tak ternilai bagi kita semua . Yaitu “spirit” . Kantata telah membuktikan bahwa proses Kreativitas seniman tak boleh macet dan mandeg hanya karena masalah biaya . Hari ini ketika saya mengharapkan terjadinya kembali proses interaksi antar sesama seniman yang ada …. betapa semakin sulitnya.
salam.

ditulis oleh Yokie Suryoprayogo
sumber: jsop.net

0 komentar:

Poskan Komentar